Award & Seminar OSS 2010
Account & Groups
Live Chat

|
Oleh : Admin - 25-03-2009 - 09:34 AM
Sebagai alternatif dari piranti lunak proprietary , kiprah piranti lunak berbasis open source dalam dunia bisnis memang sangat menarik disimak. Dari sesuatu yang dulu dipandang sebagai "mainan" para akademisi dan tidak akan pernah bisa menantang keberadaan para raksasa piranti lunak proprietary , kini open source muncul sebagai kekuatan yang tak dapat dianggap enteng dalam aplikasi teknologi informasi (TI) bisnis.
Saat ini, banyak orang memandang Linux sebagai sinonim dari piranti lunak open source maupun gerakan open source itu sendiri, yang telah digunakan oleh jutaan pengguna di seluruh dunia, baik pribadi maupun kalangan enterprise.
Untuk aplikasi bisnis, menurut IDC, Linux dengan cepat merebut pangsa pasar yang kini dipegang oleh sistem operasi lainnya, khususnya untuk OS server. Dengan pangsa pasar OS server sebesar 17 persen pada tahun 2003 lalu, Linux akan meraup 28 persen pangsa pasar pada tahun 2008 mendatang.
Dalam aplikasi Internet, kiprah Linux maupun piranti lunak open source lainnya memang tak terbantahkan. Menurut suatu survei yang dilakukan Netcraft Mei lalu, terungkap bahwa lebih dari 67 persen dari 50 juta situs Web yang disurvei berjalan di atas server Apache Web. Selain itu, aplikasi Internet lain yang sangat populer adalah BIND ( Berkeley Internet Name Daemon ) untuk implementasi DNS, sendmail (yang mengatur lalulintas sebagian besar pesan email), OpenSSL ( security ), Samba ( file dan print server ), PHP dan banyak lagi.
Di luar server printer , email dan Web, Linux pun kini siap mengisi kebutuhan enterprise lainnya, seperti high volume processing . Untuk itu, aplikasi database berskala enterprise, misalnya RDBMS, merupakan jawabannya. Beberapa vendor kelas kakap, seperti Oracle dan IBM terbilang cukup agresif menawarkan aplikasi RDBMS Linux. Bahkan menurut Gartner, RDBMS ber platform Linux pada 2003 lalu tercatat sebagai segmen yang pertumbuhannya sangat cepat. Pendapatan dari lisensi Linux RDBMS tercatat sebesar 299,3 juta dolar AS, naik 158 persen dibanding tahun 2002.
Menanjaknya popularitas Linux dan alternatif open source lainnya di kalangan perusahaan tak terlepas dari daya tarik utamanya, yaitu biaya murah, selain juga kinerjanya yang terbilang bandel. Dalam suatu survei yang dilakukan InformationWeek Research terhadap 400 profesional bisnis dan teknologi, terungkap bahwa sekitar 60 persen responden mengatakan alasan utama menggunakan Linux adalah biayanya yang rendah. Sementara, sekitar 50 persen mengatakan kesengsem akan kebandelan kinerja Linux.
Dari sisi harga, sepintas memang Linux menggiurkan. Distribusi Linux yang dikemas untuk enterprise, misalnya RedHat, harganya relatif terpaut cukup jauh di bawah piranti lunak proprietary , misalnya Windows Server 2003. Itupun tanpa embel-embel CAL ( client-access license ).
Namun, berbicara masalah biaya, tidak fair rasanya jika hanya mempertimbangkan harga piranti lunak maupun perangkat keras belaka. Pasalnya, biaya suatu implementasi atau penggelaran sistem TI juga memasukkan faktor lain seperti pengonfigurasian, update piranti lunak maupun keras, pelatihan, maintenance dan dukungan teknis, atau secara keseluruhan disebut sebagai total cost of ownership (TCO). TCO ini menjadi begitu penting, karena beberapa kalangan menganggap piranti lunak dan keras hanya mencakup sebagian kecil dari total keseluruhan biaya penggelaran TI.
Nah , hitung-hitungan TCO inilah yang kini menjadi perdebatan hangat, khususnya dalam menjustifikasi keputusan sebuah perusahaan untuk bermigrasi atau menggunakan platform Linux. Tak urung, TCO ini pun seakan menjadi “senjata” bagi para vendor software proprietary untuk menghantam Linux. Tak tanggung-tanggung, raksasa software seperti Microsoft misalnya, yang selama ini uring-uringan dengan hadirnya Linux, menggandeng beberapa perusahaan riset seperti Jupiter Research, IDC, serta yang paling gres dengan Giga Research untuk melakukan studi TCO Linux vs. Windows. Bahkan, studi-studi ini menjadi andalan Microsoft untuk bahan kampanye anti-Linux yang di kenal dengan sebutan “Get the Facts.”
Dari hasil studi yang dilakukan IDC tahun 2003 lalu misalnya, terungkap bahwa TCO Linux untuk kurun waktu lima tahun lebih tinggi antara 11 sampai 22 persen dibanding Windows 2000. Menurut IDC, ini berlaku pada empat dari lima jenis implementasi yang dianalisis, yaitu networking, print server, file server dan security . Namun, untuk implementasi Web server, Linux tercatat 6 persen lebih murah dibandingkan Windows.
Beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam penelitian ini antara lain biaya akuisisi di muka untuk perangkat keras, piranti lunak sistem operasi dan aplikasi, selain juga biaya downtime tak terduga. Satu unsur terbesar yang mendongkrak TCO Linux menurut IDC adalah SDM. Linux membutuhkan technical expertise lebih tinggi dibandingkan Windows, dan biaya untuk menggaji SDM untuk lingkungan Linux relatif lebih tinggi.
Hasil studi TCO Linux vs. Windows yang dilakukan Giga Research (anak perusahaan Forrester Research) kurang lebih menghasilkan kesimpulan serupa. Studi ini membandingkan biaya yang dikeluarkan lima perusahan besar maupun menengah yang menggunakan J2EE (Java 2 Enterprise Edition), dengan tujuh perusahaan besar dan menengah yang menggunakan aplikasi .Net. Semua perusahaan yang dijadikan subyek studi ini sama-sama tengah membangun dan menggelar aplikasi-aplikasi berbasis Web ( portal applications ).
Hasilnya, seperti telah diduga sebelumnya, cukup “mengejutkan.” Menurut temuan Giga, untuk perusahaan besar, biaya total yang terkait dengan pengembangan dan penggelaran awal, ditambah dukungan dan pemeliharaan selama tiga tahun, platform Microsoft memberikan penghematan sebesar 645.929 dolar AS. Platform Microsoft ini lebih murah 28,2 persen dibandingkan J2EE/Linux. Sementara untuk perusahaan menengah, platform Microsoft memberikan penghematan sebesar 220.443 dolar AS, atau 25 persen lebih murah dibandingkan J2EE/Linux.
Meski, baik IDC maupun Giga, sama-sama mengaku tidak terpengaruh dengan siapa yang mengongkosi studi ini, toh bagi pendukung Linux, kecurigaan bahwa studi ini cenderung bias tetap ada. Namun, penelitian lain oleh Yankee Group, yang katanya lebih independen (karena tidak diongkosi Microsoft), pun menghasilkan kesimpulan yang cenderung menghantam Linux. Menurut Yankee, hampir sebagian besar respondennya – khususnya yang sudah menggunakan Windows – mengatakan bahwa Windows memberikan TCO lebih ketimbang Linux. Namun, di sisi lain, bagi perusahaan-perusahaan kecil dengan aplikasi vertikal yang customized atau tidak memiliki legacy networks , Linux memberikan TCO yang lebih baik.
“Di perusahaan besar, perubahan total dari Windows ke Linux akan tiga sampai empat kali lebih mahal dan membutuhkan waktu tiga kali lebih lama dibanding memperbarui satu versi Windows ke versi lebih baru,” kata laporan itu.
Nah , dengan fakta seperti ini, apakah langsung dapat disimpulkan platform Windows pilihan lebih baik ketimbang Linux? Nanti dulu! Pasalnya, mencari TCO untuk Linux versus Windows untuk berbagai aplikasi bukanlah perkara sederhana. Kalaupun para analis ditanya apakah Linux memiliki TCO lebih rendah ketimbang sistem lain, mereka akan menjawab, “Itu tergantung.” Masalahnya, ada banyak faktor yang mempengaruhi kalkulasi TCO itu sendiri, antara lain: untuk apa Linux digunakan, perangkat keras seperti apa (dan berapa jumlahnya) yang digunakan, apakah Anda bertransisi dari Windows atau mulai dari nol, dan apakah staf TI Anda memiliki pengalaman dengan sistem operasi “bernuansa” Unix.
Faktor-faktor tersebut, ditambah dengan faktor-faktor seperti versi distro Linux apa yang digunakan dan versi Windows atau Unix mana yang diperbandingkan membuat sulit untuk mengolah berbagai variabel ini guna menghasilkan jawaban yang mudah, jelas Al Gillen, research director of systems software IDC, yang sudah tahunan melakukan berbagai studi TCO.
Angka-angka yang pada mulanya bisa diukur dan dibandingkan seringkali berujung pada permasalahan yang lebih kompleks. Contohnya licensing fee , dalam hal ini dengan enteng Linux mengalahkan Windows maupun sistem operasi lainnya. “Ketika memperhitungkan TCO untuk masa tiga sampai lima tahun, ujung-ujungnya licensing cost ini menjadi kecil porsinya, dibandingkan misalnya dengan biaya pengelolaan dan dukungan untuk Linux,” tandas Gillen.
Masalah lainnya adalah tidak semua studi TCO yang ada klop dengan kondisi perusahaan Anda dan bisa dijadikan acuan untuk menentukan platform apa yang akan dipilih. Pasalnya, rata-rata studi TCO yang ada hanya menyoroti implementasi-implementasi tertentu, dan juga development tools apa yang digunakan.
Ambil contoh studi TCO yang dilakukan Giga Research, yang hanya menyoroti biaya untuk implementasi aplikasi portal Web. Itupun, di dalam studi itu kita bisa melihat keunggulan biaya produk Microsoft ketika dibandingkan dengan biaya produk-produk buatan raksasa software lainnya, seperti Oracle dan BEA. Seperti diungkapkan Giga, perusahaan-perusahaan besar yang dijadikan subyek studi merogoh kocek 80.000 dolar untuk database Oracle, dan sekitar 60.000 dolar untuk development tools buatan BEA. Jelas tidak sebanding dengan 40.000 dolar untuk MicrosoftSQL dan 12.500 dolar untuk VisualStudio.net.
Sayangnya, Giga tidak meneliti TCO seperti apa yang bakal didapat ketika perusahaan-perusahaan yang membayar mahal ke Oracle dan BEA itu menggunakan database dan scripting tools berbasis Linux yang gratisan, misalnya MySQL dan PHP. “Pertarungan TCO” Linux vs. Windows tentu akan lebih sengit dan seru.
Terlepas initial cost rendah yang ditawarkan Linux, seyogyanya kalangan perusahaan tidak menjadikan hal ini sebagai patokan untuk memutuskan bermigrasi atau switching dari Windows ke Linux, karena begitu banyaknya faktor biaya yang perlu dipertimbangkan. Studi TCO Linux vs. Windows yang belakangan ini muncul dan hasilnya cenderung berpihak kepada Windows, menurut Gillen, paling tidak bisa membuka mata semua pihak dimana real cost of operation sesungguhnya berada.
Apakah ini berarti Linux akan ditinggalkan kalangan perusahaan? Tidak juga. Faktanya penjualan server berbasis Linux dari tahun ke tahun cenderung meningkat, dan Linux pun agaknya akan tetap kokoh sebagai pilihan utama khusus untuk aplikasi web server (seperti yang sudah terjadi belakangan ini). Tak hanya itu, gerakan open source yang semakin marak dan mapan belakangan ini, dan bahkan mendapatkan dukungan resmi dari pemerintah di beberapa negara, juga merupakan faktor penting dalam mempertahankan eksistensi Linux dan open source secara keseluruhan.
Yang tak kalah penting, teknologi Linux itu sendiri kini semakin mapan. Hadirnya kernel Linux terbaru yang menjanjikan skalabilitas SMP ( symmetric multi-processing ) dan berbagai kemampuan lain yang sangat dibutuhkan aplikasi enterprise merupakan tawaran yang cukup menggiurkan dan sayang “dilewatkan” begitu saja oleh kalangan enterprise.
Dengan meminjam kata-kata yang pernah diucapkan Ian Malcolm, tokoh ilmuwan fiktif dalam novel Jurassic Park karya Michael Crichton, yaitu “ nature finds its way” , maka untuk kasus Linux, rasanya tidak terlalu berlebihan jika dikatakan “Linux (will) find its way (to survive) dalam menghadapi hantaman balik dari raksasa software proprietary. Nah, bagaimana menurut Anda? Apakah Anda berpendapat lain? Arief.